Sesungguhnya Aku Percaya Akan Melihat Kebaikan Tuhan Di Negeri Orang Orang Yang Hidup
RSS

Life is Beautiful....




Itu sebuah judul film lama yg sangat melekat di ingatan saya, film yang memenangkan academy awards th 99, Life is beutiful / La vie est belle , film yg layak ditonton , sangat memberikan aura positif untuk kehidupan kita, bahwa seperti itulah harusnya kehidupan dijalani, bukan melihat keadaan kita tapi bagaimana kita melakukan peran hidup dengan benar... (untuk yg belum tau silahkan menonton dulu...hehe )

Jadikan setiap hari kita hari yang menyenangkan dan mengucap syukurlah bukan untuk apa yang sudah kita peroleh, tapi untuk kasihNya yg selalu ada buat kita.

ada suatu kisah yang ingin saya share kan disini sbb :

Seorang anak laki2 tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: 'Saya buta, tolong saya.' Hanya ada beberapa keping uang di dalam topi itu.

Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis. Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini.

Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'

Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.' Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?

Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta.. Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?

Bersyukurlah untuk segala yang kita miliki. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif. Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat.

Kalau mungkin hari ini kita belum mampu membeli makanan yg enak, nikmati aja makanan yg ada pada kita seakan kita nggak akan pernah lagi menikmati makanan yg seperti itu...hehe
keadaan nya masih sama tapi sikap hati kita yg berbeda membuat hidup selalu indah.

setiap hari kita pasti akan mengalami keunikan hal-hal yang mungkin nggak akan kita lihat lagi di hari2 yg lain, dimana suatu saat kita pasti merindukannya....itulah sebuah anugrah Allah yg gratis buat setiap kita, karena itu bersyukurlah.....

Buat saya pribadi hidup yang indah itu bukan karena kita bisa mencapai semua yg kita mau, tapi hidup dengan pimpinan Tuhan setiap hari membuat kita mengalami pengalaman2 yang tidak bisa dunia berikan buat kita

Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal.. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan utk tersenyum , tunjukan pada dunia bahwa selalu ada harapan jika kita berjalan bersama Tuhan.


" Tangan kuat yang memegangku, selalu menuntunku, ku tak mau jalan sendiri...., Yesus kuperlu kasihMu, kuperlu kuasaMu, sampai akhir hidupku...." 1 comments

The power of proclamation

Banyak diantara kita anak anak Tuhan yang tidak menyadari potensi yang tersedia untuk setiap kita bahwa dengan memperkatakan firman bisa mengubah keadaan kita, tidak peduli apapun yang sedang kita hadapi.

Beberapa waktu lalu saya tanpa sengaja sebetulnya sedang melihat suatu acara tv yang lagi banyak ditonton , acara "The master" , pertunjukan sulap dengan trik2 yang cukup memukau, tapi yang saya ingin sharingkan bukan sulapnya tapi ada suatu pelajaran yang cukup bagus yg saya tonton waktu itu, si rommy rafael mempertontonkan suatu adegan dimana dia taruh gelas berisi air dimeja dan dia bilang sama penonton agar meneriaki gelas tsb dalam hati tapi keras2 dengan ucapan "pecah..pecah...terus menerus" dan apa yg terjadi pelan2 gelas tsb mulai retak dan airnya mulai mengalir keluar sampai benar2 pecah gelas tsb.

Diakhir pertunjukan tsb si rommy berkata "berhati2 lah dengan setiap ucapan kita"
saya berpikir org dunia aja bisa mengerti bahwa ucapan itu memberi dampak buat sekeliling kita, apalagi kita anak2 Tuhan, dimana Tuhan taruh Roh Nya didalam diri kita untuk membantu kita dalam kekurangan kita, waktu kita memperkatakan FirmanNya maka Roh itu membantu menjadikan perkataan kita itu nyata dan terwujud.

Memproklamasikan Firman artinya kita menyetujui atau memberikan pengakuan ttg hal yang sama seperti yang Tuhan katakan dalam firmanNya, ada kesepakatan dalam setiap perkataan kita. Bil 14:28 berkata "Demikianlah Firman Tuhan, bahwasanya seperti yang kamu katakan dihadapan Ku , demikianlah akan Kulakukan kepadamu"
kita harus percaya bahwa waktu kita melepaskan Firmah Allah melalui mulut kita maka kita akan melepaskan otoritas dari Firman itu dalam situasi yang kita ingin ubah, baik itu situasi dalam kehidupan kita pribadi, dalam gereja, bahkan dalam situsi negara kita sekalipun.

Mungkin waktu kita memperkatakan Firman pada kali pertama tdk ada sesuatu yang berubah dalam situasi yang sedang kita alami, perkatakan terus Firman iu sampai menjadi bagian dalam pikiran kita, waktu kita ucapkan Firman berkali2 bersama dengan Roh kudus maka perubahan dalam alam Roh akan nyata

Banyak ayat2 Firman Tuhan yang bisa mulai kita hafalkan, dan harus mulai belajar diperkatakan, saya punya ayat favorite yang selalu saya perkatakan, didalam roma 8:28 dan maz 27:13 ,
setiap pagi sebelum saya berangkat beraktivitas, saya ucapkan nggak hanya sekali tapi berkali kali dengan iman, dan saya melihat bagaimana Allah melakukan pembelaan atas hidup saya setiap hari, saya percaya nggak hanya untuk saya pembelaan Allah ini tapi bagi setiap kita anakNya yang dikasihiNya, amien. 1 comments

The Smell of Rain

Pada malam yang dingin di bulan maret dan angin berhembus di kegelapan malam di Dallas amerika. Dan seorang dokter melangkah masuk ke dalam ruangan dimana Diana Blesing di rawat. Diana masih merasa pening akibat dari efek operasi. Diana baru saja dioperasi



Suaminya David mengenggam tangannya dan berusaha menahan emosinya atas berita yang baru saja di dengarnya.Siang itu pada tanggal 10 maret 1991, Diana mengalamai komplikasi pada kandungannya. Di usia kandungan baru 24 minggu dia harus menjalani operasi Caesar untuk mengeluarkan bayi di dalam kandungannya.Maka lahirlah anak Perempuan pasangan itu, yang bernama Dana Lu Blesing. Yang hanya 12 inci dan beratnya hanya satu pound sembilan ons (0.86 kg)





Dan perkataan dokter yang lembut rasanya seperti bom bagi mereka. Dokter mengatakan dengan sebaik-baiknya " Saya tidak yakin, anak ini akan dapat bertahan"



Hanya ada kemungkinan 10 persen, dia kan melewati malam ini. Dan jika dapat bertahan, hanya ada kesempatan yang sangat kecil dia dapat bertahan, masa depannya akan sangat kejam.



Dengan rasa tidak percaya, David dan Diana mendengarkan apa yang dokter jelaskan tentang sesuatu yang sangat buruk. Dana sangat tidak mungkin untuk selamat."Dana tidak akan dapat berjalan, dia tidak akan dapat berbicara, dia kemungkinan akan buta, dan dia pasti akan mudah untuk dapat menderita catastrophic (masalah besar) dari Celebral plasty ( idiot) dan penghambatan perkembangan mental dan lain sebagainya."


" Tidak mungkin" Kata Diana tidak percaya Dia dan David suaminya dan anak lelakinya Dustin yang berumur 5 tahun, telah lama mendambakan seorang putri di dalam anggota keluarganya.








Sekarang mimpi itu telah terwujud….



Tetapi setelah hari itu berlalu, dan penderitaan baru di dalam keluarga itu. Karena Dana mengalami pertumbuhan system sel saraf yang sangat lambat sehingga cahaya atau sentuhan dapat membuat dia merasa kesakitan ( tidak nyaman), jadi mereka tidak dapat menggendong bayi mungil itu di dada. Dan memberikan rasa cinta yang besar Semua mereka lakukan untuk berdoa supaya Tuhan mau berjaga di dekat putri mereka yang berharga, dan dana berjuang sendirian dibawah lampu sinar ultraviolet di dalam incubator.Mereka tidak melupakan bagaimana dana bertumbuh dan akhirnya menjadi semakin kuat


Minggu demi minggu berlalu, Dana tumbuh dengan lambat tetapi pasti. Berat dan kekuatannya juga semakin bertambah


Akhirnya setelah dana berusia dua bulan. Mereka mendapatkan ijin untuk menyentuh dana dengan tangan untuk pertama kalinya.





Dan dua bulan kemudian, dokter memperingatkan dengan lembut kemungkinan yang suram yang akan terjadi, kesempatannya sangat kecil untuk bertahan dan hidup dengan normal. Semuanya sangat kecil sekali. Dan Dana bisa di bawa pulang dari rumah sakit, seperti yang diinginkan ibunya.


Lima Tahun kemudian, Dana telah menjadi seorang gadis kecil yang mungil dengan mata abu-abunya yang cerah dan semangat hidup yang luar biasa.





Tidak ada tanda-tanda akan mengalami suatu gangguan mental atau fisik yang akan di deritanya. Dia seperti gadis kecil yang normal dengan segala aktifitasnya. Tetapi cerita tidak berakhir disini.

Di suatu siang yang panas, pada musim panas tahun 1996 di dekat rumah mereka di Irving , Texas . Dana sedang duduk di pangkuan ibunya, di sebuah lapangan bola setempat, dimana saudaranya Dustin sedang latihan baseball bersama teamnya,


Seperti biasa, Dana mengoceh tanpa henti kepada ibunya dan beberapa orang dewasa duduk di dekat mereka ketika tiba-tiba Dana terdiam. Dana memeluk tangan ibunya dan merangkulkannya ke tubuh mungilnya. Lalu ia bertanya..
" Mama,… mama mencium sesuatu…?


Mamanya mencoba membaui udara dan berusaha mendeteksi akan mendekatnya badai.
" Ya,… Baunya seperti akan hujan…" Diana menjawab
Dana memandang mata ibunya dan bertanya lagi
" Mama mencium baunya …"


Sekali lagi ibunya mejawab " Ya… saya pikir nanti akan hujan. Karena baunya seperti hujan."
Masih dalam dekapan ibunya, Dana mengelengkan kepalanya dan menepuk pundak ibunya dengan tangan mungilnya. Dengan perlahan dia mengatakan" Bukan, Baunya seperti DIA…"


Itu baunya TUHAN, ketika kamu medekap ke dadaNYA…


Air mata mengalir ke pipi Diana karena Dana karena kebahagian dan pertolongan sehingga dana dapat seperti anak lainnya.
Sebelum hujan turun, perkataan Dana mengingatkan Diana akan keberadaan Dana dalam keluarga itu, di dalam hatinya selama ini.


Pada saat hari-hari yang panjang di dalam dua bulan pertama kehidupan Dana, ketika system sarafnya sensitive terhadap sentuhan sekalipun.Pada saat Dana tidak dapat di dekapnya di dalam pelukannya sekalipun ibunya sangat menginginkanya.


TUHAN telah mendekap Dana di dalam pelukanNya dan menjaganya. Dan Bau Cinta Tuhan yang telah diingat oleh Dana sangat baik.

Take From Internet.


"Setiap hari kita dipelukNya dengan kesetiaan dan dalam dekapan perlindunganNya, biarlah kita juga selalu bisa merasakan bau Kehadiran Nya dalam setiap langkah kita, setiap kali kita menghirup udara segar itulah Kasih dan kemurahan Allah yang memberi kita kehidupan ini , Arti kehadiran Allah selalu nyata dalam kehidupan kita"







































































































































































































































































































































































0 comments

Bagai Tempayan Yang Retak



sudah lama nggak update artikel di blog ini, tiba2 waktu baca sebuah artikel lama yang pernah disimpan ada sesuatu yang Tuhan taruh dihatiku , ingin aku bagikan, tentang tempayan yang retak, seringkali kita merasa diri kita kurang berguna dibanding orang lain, termasuk aku juga...hehe, seperti tempayan yang retak yang seakan-akan berfungsi tidak maksimal, tapi biarlah melalui artikel ini kita sama2 mengerti setiap kita berharga dan Tuhan sanggup pakai ketidak sempurnaan kita menjadi tepat pada fungsinya dan berharga untuk menolong sesama, seperti firmanNya di efesus2:10 ( " Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya, Ia mau supaya kita hidup didalamnya " )


Kisah Tempayan Retak :
Seorang ibu Cina yang sudah tua memiliki dua buah tempayan, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu.

Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tak bercela dan selalu memuat air hingga penuh.

Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.

Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.

Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua di dekat sungai.

“Aku malu, sebab air bocor mela-lui bagian tu-buhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.”

Ibu itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?

Aku sudah tahu kekurang-anmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalan-an pulang kau menyirami benih-benih itu.

Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja.

Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga.”

Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing …


Namun keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup
kita bersama menyenang-kan dan memuaskan.

Kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.

Rekan-rekan sesama tempayan yang retak, semoga hari kalian menyenangkan. Jangan lupa mencium wanginya bunga-bunga di jalur kalian.





1 comments

Hari Aku Bertemu Daniel

Kisah Daniel ini saya dapat dr email (Thanks ya sylvi atas kiriman emailnya.. ) dan sangat mengispirasi saya tentang panggilan Tuhan dalam hidup kita


Hari itu dingin, tak biasa untuk bulan Mei. Musim semi sudah tiba dan segala sesuatunya hidup beraneka warna. Tapi, arus dingin dari utara membawa dinginnya musim salju kembali ke Indiana. Aku duduk bersama dua orang teman di jendela bergambar dalam rumah makan yang ganjil di pojok taman kota. Makanan dan temanku terasa istimewa hari itu. saat kami sedang mengobrol,perhatianku tertarik keluar, ke seberang jalan. Di situ tampak seorang lelaki yang kelihatannya menggendong seluruh barang miliknya dipunggung. Ia membawa tanda kusam yang bertuliskan, "Saya mau bekerja untuk dapat makan." Hatiku trenyuh. Aku mengalihkan perhatian kedua temanku padanya dan melihat bahwa orang di sekitar kami berhenti makan untuk melihat ke arahnya. Banyak kepala bergerak dalam campuran sedih dan tak percaya.

Kami meneruskan makan, tapi bayangannya tak menghilang dari pikiranku. Kami menyelesaikan makan siang dan kemudian berpisah. Ada hal yang harus kukerjakan dan aku pun bergegas hendak menyelesaikannya. Aku menoleh ke arah taman kota, mencari pengunjung aneh itu dengan setengah hati. Aku merasa takut, tahu bahwa kalau aku melihatnya lagi, aku merasa harus menanggapinya. Aku menyusuri kota dan tak melihatnya. Aku berbelanja dan kembali ke mobil. Dari lubuk hatiku, Roh Tuhan terus berbicara padaku: "Jangan kembali ke kantor sampai setidaknya mengelilingi taman sekali lagi."

Begitulah, dengan sedikit ragu, aku menuju kembali ke kota. Saat aku mengitari tikungan taman ketiga, aku melihatnya. Ia sedang berdiri di tangga depan gereja, memeriksa isi tasnya. Aku berhenti dan memandang, merasa terpanggil untuk berbicara padanya, tapi juga ingin terus melanjutkan perjalanan. Tempat parkir kosong di pojok mungkin sebuah tanda dari Tuhan :undangan untuk parkir. Aku memarkirkan mobil, turun, dan menghampiri pengunjung kota terbaru itu.

"Mencari pastor, Pak?" tanyaku.
"Tidak juga," sahutnya. "cuma istirahat."
"Bapak sudah makan hari ini?"
"Oh saya makan sedikit tadi pagi."
"Bapak mau makan siang dengan saya?"
"Apakah Bapak punya pekerjaan untuk saya?"
"Tak ada," sahutku. "Aku datang dari kota di sini untuk bekerja, tapi saya ingin mengajak Bapak makan siang."
"Baiklah," sahutnya sambil tersenyum. selagi ia mulai mengumpulkan barang-barangnya, aku bertanya basa-basi."Bapak hendak ke mana?"
"St. Louis."
"Asalnya dari mana?"
"Oh, dari mana-mana; kebanyakan dari Florida."
"Sudah berapa lama Bapak berjalan?"
"Empat belas tahun," begitu jawabnya.

Aku tahu aku telah berkenalan dengan orang yang tidak biasa. Kami duduk berseberangan dalam rumah makan yang sama dengan yang kutinggalkan beberapa menit sebelumnya. Rambutnya panjang lurus, dan janggut gelapnya dicukur rapi. Kulitnya terbakar matahari, dan wajahnya sedikit lebih tua dari usianya yang 38 tahun. Matanya berwarna gelap, tapi jernih, dan cara bicaranya fasih dan jelas dan mencengangkan. Ia membuka jaketnya dan terlihat kaos merah terang bertuliskan, "Yesus adalah Cerita Tanpa Akhir."

Lalu, cerita Daniel mulai terungkap. Ia mengalami hidup yang kasar. Ia membuat beberapa pilihan salah dan menuai akibatnya. Empat belas tahun yang lalu, selagi berkelana melintasi negeri, ia berhenti di pantai di Daytona. Ia mencoba bekerja bersama beberapa orang yang sedang mendirikan tenda besar dan beberapa peralatan. Konser, pikirnya. Ia boleh bekerja, tapi tendanya bukan untuk konser, melainkan misa kebaktian, dan dalam kebaktian itu ia melihat kehidupan dengan lebih jelas. Ia menyerahkan hidupnya pada Tuhan."Tak ada yang sama sejak itu," katanya.

"Saya merasa Tuhan menyuruhku terus berjalan, jadi saya teruskan sampai 14 tahun sekarang." "Pernah merasa ingin berhenti?" tanyaku."Kadang-kadang, kalau pas sangat sulit. Tapi, Tuhan telah memberikan panggilan ini. Saya membagi-bagikan Alkitab. Itu isi tas saya. Saya bekerja untuk membeli makanan dan Alkitab dan saya berikan Alkitab itu saat Roh-Nya menuntun saya."
Aku duduk tercengang. Temanku yang tunawisma ini ternyata bukan tak punya rumah. Ia sedang menjalani misi dan hidup seperti ini sebagai pilihan. Pertanyaan berkobar di dalam kalbuku selama beberapa saat, lantas aku bertanya :
"Seperti apa rasanya?"
"Apa?"
"Berjalan-jalan di kota membawa semua milik Bapak di punggung dan menunjukkan tanda itu?"
"Oh, awalnya terasa memalukan. Orang pasti menatap dan berkomentar. Pernah ada orang melemparkan roti yang sudah setengah habis dan memberi isyarat yang menyatakan bahwa saya sama sekali tidak diinginkan di sekitar situ. Tapi, kemudian saya merasa rendah hati ketika saya sadar bahwa Tuhan menggunakan saya untuk menyentuh kehidupan dan mengubah cara pikir orang tentang orang-orang seperti saya."

Cara pikirku juga berubah. Kami menyelesaikan makanan penutup dan mengumpulkan barang-barangnya. Di luar pintu ia berhenti. Ia berbalik menghadapku dan berkata, "Marilah, hai orang yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan."

Aku merasa seakan kami berdiri di tanah suci. "Bapak mau tambahan Alkitab?" tanyaku.
Ia bilang ia ingin punya buku terjemahan tertentu. Mudah dibawa dan tak terlalu berat. Buku itu adalah buku kesukaannya.
"Saya sudah membaca Alkitab 14 kali," katanya.
"Saya tidak tahu apakah kami punya buku terjemahan itu, tapi kita bisa mampir di gereja kami dan melihat-lihat." Aku berhasil menemukan sebuah Alkitab yang cocok untuk teman baruku, dan ia kelihatan sangat berterima-kasih."
Dari sini Bapak mau ke mana?" tanyaku."
Saya menemukan sebuah peta kecil di belakang kupon taman hiburan ini."
"Bapak ingin bekerja di situ untuk sementara?"
"Tidak, cuma saya ingin ke sana saja. Saya rasa ada orang di bawah bintang di sana yang membutuhkan Alkitab, jadi saya akan ke situ." Ia tersenyum, dan kehangatan jiwanya memancarkan ketulusan misinya.

Aku mengantarkannya kembali ke taman kota tempat kami bertemu dua jam sebelumnya, dan selagi kami di mobil, hari mulai hujan. Kami parkir dan menurunkan barang-barangnya.

"Bapak mau mengisi buku tanda tangan saya?" tanyanya. "Saya suka mengumpulkan pesan dari orang yang saya temui." Aku menulis dalam buku kecilnya bahwa pengabdiannya pada panggilannya telah menyentuh hidupku. Aku mendorongnya untuk tetap tabah. Dan aku meninggalkannya sebait ayat, Yeremia 29:11. "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."
"Terima Kasih," katanya. "Saya tahu kita baru berkenalan dan sebenarnya masih belum kenal betul, tapi saya mengasihimu."
"Saya tahu," kataku. "Saya juga mengasihimu."
"Tuhan itu baik"
"Ya, benar. Kapan terakhir kali Bapak dipeluk?" tanyaku."
Wah, sudah lama sekali," sahutnya.

Jadi di tikungan jalanan yang sibuk dalam hujan gerimis, aku dan teman baruku berpelukan, dan aku merasakan di dalam diriku aku sudah berubah. Ia memanggul tasnya, menyunggingkan senyum kemenangan dan berkata,
"Sampai ketemu di Yerusalem Baru."
"Aku pasti ke sana!" begitu jawabku.

Ia memulai kembali perjalanannya. Ia pergi dengan tandanya bergantung pada gulungan kasur dan tumpukan Alkitabnya. Ia berhenti, berbalik dan berkata, "Kalau Bapak melihat sesuatu yang mengingatkan Bapak pada saya, Bapak mau mendoakan saya?"
"Pasti," aku berseru kembali."
Tuhan memberkatimu!"
"Tuhan memberkatimu!"

Dan itulah saat terakhir aku melihatnya. Akhir sore itu saat aku meninggalkan kantor, angin bertiup kencang. Angin dingin berhembus keras di dalam kota. Aku mengenakan pakaian tebal dan bergegas ke mobil. Saat aku duduk dan meraih rem tangan, aku melihatnya sepasang sarung tangan kerja warna coklat yang usang ditaruh dengan rapi pada gagang rem. Aku memungutnya dan memikirkan temanku dan bertanya-tanya apakah tangannya akan tetap hangat tanpa sarung tangan itu. Aku teringat kata-katanya: "Kalau Bapak melihat sesuatu yang mengingatkan Bapak pada saya, Bapak mau mendoakan saya?"

Hari ini sarung tangannya ada di atas mejaku di kantor. Mereka menolongku melihat dunia dan manusianya dengan cara baru, dan mereka menolongku mengingat dua jam bersama temanku yang unik dan mendoakan misinya.
"Sampai ketemu di Yerusalem Baru," katanya.
Ya, Daniel, kita pasti bertemu.

Tuhan memanggil setiap orang dengan misi berbeda. Kita hidup terbentuk oleh kebudayaan, dan terutama kebiasaan, sehingga hal-hal yang di mata kita kurang lazim, dengan segera kita menghakiminya tanpa bertanya atau takut akan Tuhan yang menciptakan dan memanggil orang dengan cara berlainan dari kita, latar belakang kita dan kenormalan kita.

Bersyukur ada sekelumit kisah Daniel yang kiranya dapat mengubah cara pikir kita, sehingga saya nggak usah repot-repot “membela diri” dengan penampilan saya, penolakan undangan-undangan yang diajukan kepada saya, cara kami melayani, visi yang sedang kami jalani. Dengan mengatakan hal ini, tidak berarti kami mau menutupi (jika ada) kesalahan dengan mengatasnamakan “panggilan yang berbeda” – bukan, tetapi hanya ingin memberi fakta adanya perbedaan-perbedaan di dunia ini.

Tidak semua hamba Tuhan harus berdiri di mimbar, tetapi hamba Tuhan setia seperti Daniel, panggungnya/mimbarnya adalah dunia terbuka, di taman-taman, di dekat daerah sampah, di jalanan, di kota-kota dari jalan ke jalan disertai terik matahari yang menyengat, salju yang dingin membeku, atau hujan deras yang dapat membuatnya menggigil atau demam. Di sanalah Tuhan menyuruhnya berkhotbah dengan memberikan Alkitab – hanya ke tempat dan kepada orang yang Tuhan tuntun. Jadi tidak ada seorang pun yang meniru gaya Daniel hanya untuk sekedar meniru, tetapi masing-masing dipanggil sebagaimana Tuhan taruh dalam hatinya.

1 comments